Sabtu, 10 Januari 2015

 


Menanamkan Pendidikan Karakter Bangsa Adalah Suatu Prioritas




 
 
           Mendidik karakter adalah bahasan unik, mengapa unik? Karena bahasan ini bisa “larikemana-mana bila kita membahas tentang manusia. Dan masalah tentang manusia adalah pekerjaan yang tidak ada habisnya, dari manusia lahir hingga meninggal banyak kejadian ajaib serta memalukan terjadi dalam kehidupannya.

Manusia adalah faktor penting dalam menciptakan kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik dan sejahtera itu dapat dibentuk dan diciptakan. Pertanyaannya bagaimana membentuknya?

Bentuklah dari kebiasaan. Sebagai contoh, di Hong Kong kepadatan lalu lintas tidak seruwet di Jakarta, bahkan cenderung sepi dan lenggang. Dengan penduduk sekitar 8,8 juta lalu lintas kendaraan di Hong Kong termasuk lenggang, bahkan hari-hari sibuk juga lenggang. Apa orang hongkong tidak memiliki kendaraan? Tidak, ternyata di Hong Kong ada 2 kehidupan, kehidupan di dunia atas dan dunia bawah. Dunia atas adalah dunia yang saya maksudkan lenggang, tetapi dunia bawah adalah jalur subway atau kereta bawah tanah.

Jelas lebih padat aktifitas transportasi di dunia bawah. Hampir semua penduduk Hong Kong menggunakan fasilitas ini. Walaupun padat, tetapi meraka sangat teratur. Keluar melalui pintu samping kanan dan penumpang masuk melalui pintu samping kiri, rapi dan teratur. Bagaimana ini bisa terjadi?

Ternyata ini adalah proses dari pembiasaan, hal ini sudah di biasakan sejak anak di sekolah dasar, sekolah mengajarkan keteraturan-keteraturan ini sejak usia dini. Mereka dibiasakan untuk melakukan ini, sehingga kelak mereka terbiasa. Para pembaca sekalian, anda tahu berapa waktu yang di butuhkan untuk membentuk karakter seperti ini? Apakah 6 bulan? 1 tahun? Ini butuh proses yang cukup lama dan perlu dibudayakan.

Indonesia memiliki nenek moyang yang ramah tamah dan sangat santun dalam berelasi dengan sesama dan kehidupan kesehariannya. Tetapi mengapa hingga ke belakang (saat ini), nilai itu pudar semua? Australia, suku asli Aborigin, mereka jauh tidak beradap dan jauh lebih brutal dari nenek moyang kita, tetapi kini mereka masuk dalam kategori negara yang sangat teratur dan tingkat kehidupan yang cenderung makmur. Ungkap seorang kawan yang bercerita kepada saya. Teringat juga saya ketika rekan saya lebih tepatnya dosen pembimbing skripsi saya saat pulang dari Australia dan kita bertemu di tahun 2012. Dia bercerita, saat terjadi banjir yang melumpuhkan Brisbane, dosen saya termasuk orang yang beruntung karena dia tinggal di flat yang agak tinggi dan tidak perlu mengungsi. “Orang disana tidak egois, rumah yang masih ada penghuninya saling di datangi, entah mereka kenal apa tidak. Mereka ketok setiap pintu mereka tawarkan bahan makan dan selimut, bertanya apa yang kita butuhkan, mereka saling berbagi dengan mudahnya dan ikhlas”, “apakah
itu petugas khusus penanganan bencana yang datang kerumah anda?” tanya saya, “bukan, itu adalah tetangga–tetangga saya yang senasib dengan saya, dan mereka tidak tinggal di pengungsian” merinding saya dengar cerita tersebut. Bagaimana mereka dapat hidup berdampingan seperti itu dan memperlakukan orang lain yang bukan asli Australia seperti itu, tanpa pamrih.

Seandainya kita bisa berlaku seperti negara tetangga kita, indahnya hidup dan kebersamaan ini. Hingga akhirnya saya diberi tahu suatu fakta yang membuat otak saya “kram” sesaat. Ternyata untuk mendidik dan menanamkan sikap seperti di negara tetangga kita itu butuh waktu minimal 16 tahun, secara kontinyu dan konsisten. Dan untuk mendidik anak baca dan tulis serta berhitung tidak lebih dari 6 bulan. Orangtua di Australia, tidak pusing jika anaknya belum bisa baca tulis, karena itu akan dikuasai dalam 6 bulan ke depan, tetapi sikap disiplin dan pembentukan karakter diterapkan sedini mungkin, mereka tahu itu lebih penting dari sekedar baca tulis di usia 3-5 tahun.

Semoga hal ini bermanfaat, dapat membawa pencerahan dan kebaikan bagi negara kita, dan tetap semangat dan majulah pendidikan karakter di Indonesia.

Mewujudkan Pendidikan Karakter Yang Berkualitas

 
 
 
        Dalam tataran teori, pendidikan karakter sangat menjanjikan bagi menjawab persoalan pendidikan di Indonesia. Namun dalam tataran praktik, seringkali terjadi bias dalam penerapannya. Tetapi sebagai sebuah upaya, pendidikan karakter haruslah sebuah program yang terukur pencapaiannya. Bicara mengenai pengukuran artinya harus ada alat ukurnya, kalo alat ukur pendidikan matematika jelas, kasih soal ujian jika nilainya diatas strandard kelulusan artinya dia bisa. Nah, bagaimana dengan pendidikan karakter?

Jika diberi soal mengenai pendidikan karakter maka soal tersebut tidak benar-benar mengukur keadaan sebenarnya. Misalnya, jika anda bertemu orang yang tersesat ditengah jalan dan tidak memiliki uang untuk melanjutkan perjalananya apa yang anda lakukan? Untuk hasil nilai ujian yang baik maka jawabannya adalah menolong orang tersebut, entah memberikan uang ataupun mengantarnya ke tujuannya. Pertanyaan saya, apabila hal ini benar-benar terjadi apakah akan terjadi seperti teorinya? Seperti jawaban ujian? Lalu apa alat ukur pendidikan karakter? Observasi atau pengamatan yang disertai dengan indikator perilaku yang dikehendaki. Misalnya, mengamati seorang siswa di kelas selama pelajaran tertentu, tentunya siswa tersebut tidak tahu saat dia sedang di observasi. Nah, kita dapat menentukan indikator jika dia memiliki perilaku yang baik saat guru menjelaskan, anggaplah mendengarkan dengan seksama, tidak ribut dan adanya catatan yang lengkap. Mudah bukan? Dan ini harus dibandingkan dengan beberapa situasi, bukan hanya didalam kelas saja. Ada banyak cara untuk mengukur hal ini, gunakan kreativitas anda serta kerendahan hati untuk belajar lebih maksimal agar pengukuran ini lebih sempurna.



Membentuk siswa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal tersebut memerlukan upaya terus menerus dan refleksi mendalam untuk membuat rentetan Moral Choice (keputusan moral) yang harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata, sehingga menjadi hal yang praktis dan reflektif. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang. Menurut Helen Keller (manusia buta-tuli pertama yang lulus cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904) “Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved”.

Selain itu pencanangan pendidikan karakter tentunya dimaksudkan untuk menjadi salah satu jawaban terhadap beragam persoalan bangsa yang saat ini banyak dilihat, didengar dan dirasakan, yang mana banyak persoalan muncul yang di indentifikasi bersumber dari gagalnya pendidikan dalam menyuntikkan nilai-nilai moral terhadap peserta didiknya. Hal ini tentunya sangat tepat, karena tujuan pendidikan bukan hanya melahirkan insan yang cerdas, namun juga menciptakan insan yang berkarakter kuat. Seperti yang dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni “intelligence plus character that is the goal of true education” (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk merealisasikan pendidikan karakter di sekolah. Konsep karakter tidak cukup dijadikan sebagai suatu poin dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah, namun harus lebih dari itu, dijalankan dan dipraktekan. Mulailah dengan belajar taat dengan peraturan sekolah, dan tegakkan itu secara disiplin. Sekolah harus menjadikan pendidikan karakter sebagai sebuah tatanan nilai yang berkembang dengan baik di sekolah yang diwujudkan dalam contoh dan seruan nyata yang dipertontonkan oleh tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah dalam keseharian kegiatan di sekolah.



Di sisi lain, pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus diantara ketiga stakeholders terdekat dalam lingkungan sekolah yaitu guru, keluarga dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara stakeholder lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat siklus pembentukan tersebut. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996; 321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan disini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.

Ingin mewujudkan pendidikan karakter yang berkualitas? Maka kuncinya sudah dipaparkan diatas, ada alat ukur yang benar sehingga ada evaluasi dan tahu apa yang harus diperbaiki, adanya tiga komponen penting (guru, keluarga dan masyarakat) dalam upaya merelaisasikan pendidikan karakter berlangsung secara nyata bukan hanya wacana saja tanpa aksi. Ingat, Pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur. Dan yang terpenting adalah praktekan setelah informasi tersebut di berikan dan lakukan dengan disiplin oleh setiap elemen sekolah.

Senin, 05 Januari 2015

SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DAN KARAKTER ANAK

                     SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA




           Kita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak
kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah
seperti les matematika, les bahasa inggris, les
fisika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kita dilakukan
untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau
menjadi yang unggul di sekolah. Bahkan, terkadang
ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari sianak, namun datang dari kita sebagai orang tua.
Benar tidak?

Memang, saat ini kita menganggap tidak cukup jika
anak kita hanya belajar di sekolah saja, sehingga
kita mengikutkan anak kita bermacam-macam les.
Kita ingin anak kita pintar berhitung, kita ingin anak
kita mahir berbahasa inggris, kita juga ingin anak
kita jago fisika dan lain sebagainya. Dengan begitu,
anak memiliki kemampuan kognitif yang baik.
Ini tiada lain karena, pendidikan yang diterapkan di
sekolah-sekolah juga menuntut untuk
memaksimalkan kecakapan dan kemampuan
kognisi. Dengan pemahaman seperti itu,
sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak kalah
penting yang tanpa kita sadari telah terabaikan.
Apa itu? Yaitu memberikan pendidikan karakter
pada anak didik. Saya mengatakan hal ini bukan
berarti pendidikan kognitif tidak penting, bukan
seperti itu!

            Maksud saya, pendidikan karakter penting artinya
sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Beberapa
kenyataan yang sering kita jumpai bersama,
seorang pengusaha kaya raya justru tidak
dermawan, seorang politikus malah tidak peduli
pada tetangganya yang kelaparan, atau seorang
guru justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan
yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di
sekolah. Itu adalah bukti tidak adanya
keseimbangan antara pendidikan kognitif dan
pendidikan karakter.
Ada sebuah kata bijak mengatakan, ilmu tanpa
agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh.
Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa
pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena
buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal
nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan
tongkat tetap akan berjalan dengan lambat.
Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa
pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga
mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan
orang lain. Untuk itu, penting artinya untuk tidak
mengabaikan pendidikan karakter anak didik. Lalu
apa sih pendidikan karaker itu?
Jadi, Pendidikan karakter adalah pendidikan yang
menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakter
pada anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar
pendidikan karakter yang dirumuskan oleh seorang
pencetus pendidikan karakter dari Jerman yang
bernama FW Foerster. Pertama, pendidikan
karakter menekankan setiap tindakan berpedoman
terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati
norma-norma yang ada dan berpedoman pada
norma tersebut. Kedua, adanya koherensi atau
membangun rasa percaya diri dan keberanian,
dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi
yang teguh pendirian dan tidak mudah terombang-
ambing dan tidak takut resiko setiap kali
menghadapi situasi baru. Ketiga, adanya otonomi,
yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan
aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi
pribadinya. Dengan begitu, anak didik mampu
mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi
oleh desakan dari pihak luar. Keempat, keteguhan
dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak
didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik.
Dan kesetiaan marupakan dasar penghormatan
atas komitmen yang dipilih.

         Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di
Indonesia. Pendidikan karakter akan menjadi basic
atau dasar dalam pembentukan karakter
berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-
nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan,
kegotongroyongan, saling membantu dan
mengormati dan sebagainya. Pendidikan karakter
akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya
memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki
karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan.
Berdasarkan penelitian di Harvard University
Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang
tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan
dan kemampuan teknis dan kognisinyan (hard skill)
saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri
dan orang lain (soft skill). Penelitian ini
mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan
sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen
oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill ini
terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater
pada anak didik.

         Berpijak pada empat ciri dasar pendidikan karakter
di atas, kita bisa menerapkannya dalam pola
pendidikan yang diberikan pada anak didik.
Misalanya, memberikan pemahaman sampai
mendiskusikan tentang hal yang baik dan buruk,
memberikan kesempatan dan peluang untuk
mengembangkan dan mengeksplorasi potensi
dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi
yang dimilikinya, menghormati keputusan dan
mensupport anak dalam mengambil keputusan
terhadap dirinya, menanamkan pada anak didik
akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan
berkomitmen atas pilihannya. Kalau menurut saya,
sebenarnya yang terpenting bukan pilihannnya,
namun kemampuan memilih kita dan
pertanggungjawaban kita terhadap pilihan kita
tersebut, yakni dengan cara berkomitmen pada
pilihan tersebut.
          Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam
kurikulum, diterapkan metode pendidikan, dan
dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di
lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga
sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter.
Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan
unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan
karakter.