Senin, 05 Januari 2015

SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DAN KARAKTER ANAK

                     SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA




           Kita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak
kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah
seperti les matematika, les bahasa inggris, les
fisika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kita dilakukan
untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau
menjadi yang unggul di sekolah. Bahkan, terkadang
ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari sianak, namun datang dari kita sebagai orang tua.
Benar tidak?

Memang, saat ini kita menganggap tidak cukup jika
anak kita hanya belajar di sekolah saja, sehingga
kita mengikutkan anak kita bermacam-macam les.
Kita ingin anak kita pintar berhitung, kita ingin anak
kita mahir berbahasa inggris, kita juga ingin anak
kita jago fisika dan lain sebagainya. Dengan begitu,
anak memiliki kemampuan kognitif yang baik.
Ini tiada lain karena, pendidikan yang diterapkan di
sekolah-sekolah juga menuntut untuk
memaksimalkan kecakapan dan kemampuan
kognisi. Dengan pemahaman seperti itu,
sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak kalah
penting yang tanpa kita sadari telah terabaikan.
Apa itu? Yaitu memberikan pendidikan karakter
pada anak didik. Saya mengatakan hal ini bukan
berarti pendidikan kognitif tidak penting, bukan
seperti itu!

            Maksud saya, pendidikan karakter penting artinya
sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Beberapa
kenyataan yang sering kita jumpai bersama,
seorang pengusaha kaya raya justru tidak
dermawan, seorang politikus malah tidak peduli
pada tetangganya yang kelaparan, atau seorang
guru justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan
yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di
sekolah. Itu adalah bukti tidak adanya
keseimbangan antara pendidikan kognitif dan
pendidikan karakter.
Ada sebuah kata bijak mengatakan, ilmu tanpa
agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh.
Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa
pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena
buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal
nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan
tongkat tetap akan berjalan dengan lambat.
Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa
pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga
mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan
orang lain. Untuk itu, penting artinya untuk tidak
mengabaikan pendidikan karakter anak didik. Lalu
apa sih pendidikan karaker itu?
Jadi, Pendidikan karakter adalah pendidikan yang
menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakter
pada anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar
pendidikan karakter yang dirumuskan oleh seorang
pencetus pendidikan karakter dari Jerman yang
bernama FW Foerster. Pertama, pendidikan
karakter menekankan setiap tindakan berpedoman
terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati
norma-norma yang ada dan berpedoman pada
norma tersebut. Kedua, adanya koherensi atau
membangun rasa percaya diri dan keberanian,
dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi
yang teguh pendirian dan tidak mudah terombang-
ambing dan tidak takut resiko setiap kali
menghadapi situasi baru. Ketiga, adanya otonomi,
yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan
aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi
pribadinya. Dengan begitu, anak didik mampu
mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi
oleh desakan dari pihak luar. Keempat, keteguhan
dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak
didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik.
Dan kesetiaan marupakan dasar penghormatan
atas komitmen yang dipilih.

         Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di
Indonesia. Pendidikan karakter akan menjadi basic
atau dasar dalam pembentukan karakter
berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-
nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan,
kegotongroyongan, saling membantu dan
mengormati dan sebagainya. Pendidikan karakter
akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya
memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki
karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan.
Berdasarkan penelitian di Harvard University
Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang
tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan
dan kemampuan teknis dan kognisinyan (hard skill)
saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri
dan orang lain (soft skill). Penelitian ini
mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan
sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen
oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill ini
terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater
pada anak didik.

         Berpijak pada empat ciri dasar pendidikan karakter
di atas, kita bisa menerapkannya dalam pola
pendidikan yang diberikan pada anak didik.
Misalanya, memberikan pemahaman sampai
mendiskusikan tentang hal yang baik dan buruk,
memberikan kesempatan dan peluang untuk
mengembangkan dan mengeksplorasi potensi
dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi
yang dimilikinya, menghormati keputusan dan
mensupport anak dalam mengambil keputusan
terhadap dirinya, menanamkan pada anak didik
akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan
berkomitmen atas pilihannya. Kalau menurut saya,
sebenarnya yang terpenting bukan pilihannnya,
namun kemampuan memilih kita dan
pertanggungjawaban kita terhadap pilihan kita
tersebut, yakni dengan cara berkomitmen pada
pilihan tersebut.
          Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam
kurikulum, diterapkan metode pendidikan, dan
dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di
lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga
sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter.
Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan
unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan
karakter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar